A Synopsis: “A Letter to My Daughter”

Synopsis

A beautiful smart girl, Rini, lived with her 50 years-old hardworking father, Ben, in a small city named Medan. Her mother passed away five years ago while giving birth to her. For 17 years she has never seen her mother’s figure in real. Because of her sadness, she was very eager to become an obstetrician (a doctor to pregnant mothers) in order to help all women giving birth. So, after graduated from senior high school, she was going to prepare medical faculty’s entrance examination in Jakarta. However, her father, Ben, was very angry at her decision and trying to forbid her to go to Jakarta. There is a reason why he forbade her daughter.

Until one day, Ben suddenly fainted at his machine shop and Adit, his co-worker, helped and accompanied him to the hospital. A doctor to him, Nathan, said that Ben had a rare disease named Antiphospholipid syndrome (APS)— An autoimmune disease attacks human body immunity and it should be done by surgery only–. Ben was very sad to hear that and decided not to tell his daughter about his disease.

Besides, Rini received LoA (Letter of Acceptance) from Medical University which told that she was accepted and she had to go to Jakarta to fulfill the university summons. With her bestfriend, Milie, she ventured to go to Jakarta without his father knowing. In there, they met a man named Aldo who brought them to the frenetic life of Jakarta. By him, they got to know a bad lifestyle and being almost caught in a crime of his friends.

Two years later, Nathan forced Ben to do surgery immediately. But Ben refused it and said that he wanted to spend the rest of his life to find out where his daughter is. Day by day, he finally had a signal in where his daughter is through Aunt Ratna. But, the pain was so bad and made him could not survive anymore. Because he felt no longer able to withstand the pain, he strengthened himself to write a letter to her daughter and entrusted it to Nathan. Through that letter, Rini realized what her father’s plan for her.

So, what is the content of that letter? Read the full story in this novelette only .

Application Novel Cover by: Canva

Jakarta Berduka

Jakarta,  20/April/2017

Selamat hari ini Pak Basuki Tjahaja Purnama dan Pak Djarot..

Masih belum bisa meninggalkan sisa cerita semalam.

Saat mendengar dirimu dinyatakan belum terpilih untuk putaran kedua di DKI

Walau mendengar dan membaca berita kabar itu di stasiun televisi tak lantas membuat kami berkecil hati sih, tapi hati memang tak mampu berbohong.

Air mata kami perlahan menetes.

Kami sangat sedih.

Belum sanggup penuh kami menerima hasil surat suara itu.

Harap-harap cemas hasil KPU bisa berkata lain tapi memang kami juga sadar kalau hasilnya *mungkin* tak akan jauh beda. Ya memang.

Beberapa bulan lagi, tepat di bulan Oktober nanti, kami akan segera kehilangan sosokmu.

(apakah waktu bisa diputar balik saja? 😥)

Jika merenunginya lebih dalam,

kau itu adalah seorang..

-Sosok pekerja keras (melihat semua hasil kerjamu membuat kami membuka mata, bahwa dirimu lah berkat adanya semua fasilitas ruang terbuka hingga transportasi bagi anak kampung)

-Sosok yang tegas,  lugas,  jujur dan apa adanya (sampai membuat banyak orang tak suka akan eksistensimu,  -ya-sebut saja mereka para koruptor dan penjahat kerah putih ibukota yang benci dengan transparansi dan kejujuran dirimu.  Maka itulah tak kaget jika banyak pejabat juga tak suka melihatmu, takut-takut jika kau menjabat lagi nanti kebusukan mereka bisa tercium dan terbongkar.)

-Sosok yang suka ceplas-ceplos (sampai kau dikira orang yang suka menjelekkan orang lain padahal tak ada maksud sedikit pun untuk berniat buruk seperti itu terhadap mereka).

-Dan sosok panutan bagi negeri ini *ya negeri ini* (tak ada yang salah dengan mengagumimu sebagai pahlawan kami,  orang yang banyak berkontribusi di belakang layar bagi kesehatan, pendidikan,  dan kesejahteraan kami menjadi hal yang harus digaris-bawahi olehmu.) -penting-

Satu-satunya orang yang berani berkata TIDAK saat keadaan memaksamu untuk berkata IYA. Bukan ingin terlihat *sok jago* di mata kami namun kau hanya ingin meluruskan apa yang memang harus ada dijalannya. Sesimpel itulah sebuah integritas.

Dua jempol.

Sekarang, saat dirimu sebentar lagi hanya akan menjadi kenangan terbaik kami, bolehkah kami banyak-banyak berterimakasih Pak?

Kalau dengan berterimakasih bisa membuatmu bahagia,  maka..

Terimakasih untuk kerja keras Bapak selama ini.

Untuk cinta.

Untuk kasih.

Untuk toleransi.

Untuk welas asih.

Untuk Kalijodo yang indah.

Untuk ruang terbuka bagi anak-anak.

Untuk rumah susun yang indah dan asri.

Untuk kali dan sungai Ciliwung yang jarang meluap lagi.

Untuk jalanan yang jarang tergenang lagi.

Untuk pasukan orange yang selalu bersiaga.

Untuk program MRT yang cepat kerjanya.

Untuk KJP, KJS,  BPJS,  dan kartu lainnya yang sudah kami rasakan.

Untuk seluruh subsidi yang bisa kami dapatkan dengan mudah.

Untuk pengurusan e-KTP yang cepat dan tak perlu bayar lagi.

Dan untuk semua yang t’lah Bapak persembahkan bagi Jakarta.

Akankah semuanya tinggal kenangan?

Hari ini kami,  warga Jakarta, mengenakan paduan serba hitam.

Entah itu hanya gelang yang berwarna hitam.

Apakah ini cukup untuk menandakan jika kami sedang berduka?

Hanya waktu,  Tuhan dan hasil yang dapat berbicara.

Dan dua frasa yang bisa menggambarkan perasaan kami saat ini:

“Kembalilah segera Pak Ahok-Djarot.. Indonesia membutuhkanmu!”

Selalu bangga padamu,

Warga DKI

Surat untuk Putriku tercinta, Rini

Apa kabar putriku?

Sudah lama ya sejak kemarin Bapak hantarkan kau ke bandara..

Koper mu sih tidak berat Bapak angkat. Yang berat itu melepaskanmu pergi untuk beberapa lama ke kota seberang.

Melihatmu pergi sebenarnya Bapak ingin menangis tapi tak mungkin aku menangis didepan putriku sendiri..

Aku harus terlihat kuat.

Rindu sekali rasanya sudah 3 tahun lamanya tak melihat putriku yang paling besar..

Apa kabarnya ya, dia?

Dia sudah makan belum ya?

Pulsa handphone-nya sudah dibeli belum ya?

Ah… Apa aku kirim saja agar kami bisa berteleponan malam minggu ini.

Hmhmhm..  Tapi aku takut dia terganggu. Apa mungkin sekarang dia sedang belajar mempersiapkan diri mengikuti ujian PTN?

Mungkin saja.

Apa dia sudah punya teman lelaki?

Apa lelaki itu baik padanya?

Cemas sekali rasanya. Khawatir.

Tak terasa ya Anakku begitu cepat dewasa. Aku masih tidak menyangka saja.

Padahal baru kemarin aku mendaftarkannya sekolah di taman kanak-kanak..

Baru kemarin dia rewel minta dibelikan mainan masak-masakan..

Minta rambutnya ditata disalon agar terlihat bagus.. (padahal Bapak yakin kau hanya ingin mengikuti zaman ya kan Nak? 😏)

Ya begitulah putriku…

Waktu pun berlalu…

Tau-taunya sekarang anakku sudah menamatkan studi S-1-nya, sebentar lagi akan selesai co-ass dan menyandang gelar dokter.

Bangga sekali hati Bapak. Walau Bapak hanya lulusan SMA, tapi bangga bukan main akhirnya putriku bisa Sarjana juga. Terimakasih untuk kerja kerasmu ya boru.

Kau rindu ya padaku,  Nak?

Kemarin kata malaikat, putriku diam-diam menangis dikamarnya. Katanya dia sangat rindu sekali padaku. Dia bilang sedih & ingin bertemu untuk melepas rindunya pada Bapaknya.

Aku pun juga menangis mendengarnya.  Tapi aku malu dilihat malaikat,  jadi aku menangis saja didekat pohon Apel Firdaus.

Aku ingin sekali memeluk putriku,  aku ingin memberi rasa aman seperti yang seorang “Ayah” selalu berikan pada putrinya.

Aku ingin sekali mendengar keluh-kesahnya (“Bagaimana ya hari-harinya disana?  Apakah mereka memperlakukan putriku dengan baik? Atau jangan-jangan tidak….”)

Hening.

‘Nak..

Bapak sudah bahagia disini bersama Tuhan. Tuhan yang selalu kuajarkan kepadamu ketika kecil dulu. Ingat kah?

Tak ada lagi sakit disini.

Jadi jika aku pun bahagia disini,  maka anakku pun harus bahagia ya!

“Kadang kita harus belajar merelakan sesuatu yang sangat kita cintai. Karena mereka bukan milik kita sepenuhnya.  Segala sesuatu yang datangnya dari Tuhan pun harus kembali kepada Tuhan lagi.”

Kuatkan hatimu ya putriku,  sebentar lagi akan tiba waktunya. Air matamu akan di perhitungankan oleh Semesta.

Bapak percaya jika semua yang terjadi adalah atas izin Tuhan. Semua rasa sakit, penderitaan, kesusahan dan kepedihan itu Tuhan izinkan terjadi agar anakku bisa semakin dewasa.

Oh iya,  kemarin saat Malaikat,  Tuhan dan Bapak berbincang di taman dekat sungai Efrata,  katanya putriku akan segera dikirimkan seorang pria yang baik, yang tampan,  lelaki yang bukan hanya akan menjaga putriku saja,  namun juga ibu dan adik-adiknya. Lelaki itu akan datang sebagai diriku. Dia akan segera datang pada waktu-Nya. Tidak terlalu cepat dan tidak akan terlalu lama. Putriku harus segera memantaskan diri ya! 😊

Walaupun saat pernikahan-mu nanti Bapak tak bisa menghantarkan-mu kedepan altar, tapi sebenarnya Bapak pasti hadir bersama Malaikat disana nak.

Bapak akan jadi yang pertama disamping putrinya, di momen hari yang paling bahagia dalam hidup putrinya. Dan hari itu akan segera tiba.

Jadi,  untuk sementara waktu, Bapak titip ibu dan adik-adik ya. Cintailah mereka seperti aku mencintaimu.

Bapak, disini,  sangat benar-benar hebat merindukanmu. Tapi aku tak bisa menangis. Aku ingin putriku belajar menjadi seorang wanita yang kuat, hebat dan tangguh.

Namun jika anakku masih ingin merindu,  menangislah Nak. Agar rasa sesak didada bisa lepas. Tapi ingat setelah itu anakku harus bangkit lagi. Jadi wanita yang setegar karang!

Ada lagi yang ingin kau sampaikan pada Bapak, Nak?

Jika ada,  berdoalah. Hanya dengan doa semua rasa rindu dan sayang bisa tersampaikan dengan baik.

Sampai bertemu di hari dan waktu Tuhan nanti ya putriku.  Saat kita semua bisa dipertemukan kembali dengan tidak ada air mata setelahnya.

 

Peluk hangat untuk boruku, 20160906_180925.jpg

~Bapak

Surat kepada Mr. Seven

Hai Sir..

Senang sekali rasanya bisa membuat surat pertama untuk Sir..

Pertama-tama,  izinkan saya untuk berterima kasih atas semua yang sudah Sir ajarkan pada saya sejak tahun 2014 hingga sekarang (lebay ya hehehe..)

Jika flashback pada tahun-tahun pertama saya kuliah,  saya senang bisa mendapat banyak pelajaran dari Sir. Bukan tentang sulitnya mata kuliah,  tapi lebih kepada semangat yang selalu Sir tularkan kepada kami, mahasiswamu.

Selalu terselip motivasi,  semangat, totalitas, ide-ide kreatif yang selalu Sir bagikan saat mengajari kami (hal yang kami tidak selalu bisa dapatkan dari dosen lain). Walau memang hal itu tak berlangsung lama sejak Sir harus memulai kehidupan baru (Percayalah kita sangat merindukan kata kata penyemangat “mario teguh”di semester I itu..  #salamsuper 😅).

Tapi semangat dan selalu ingin jadi yang terbaik tak pernah lupa Sir tawarkan bagi kami,  karna Sir selalu tidak suka jika kami menjadi ” yang biasa-biasa saja”.

Tak lupa pula dengan kalimat yang  Sir pernah ucapkan kala kita semua mengobrol di lobby Universitas siang itu,  “Jangan jadi katak dalam tempurung.  Ada banyak peluang di luar sana, cari banyak kontes-kontes kejuaraan,  ikuti,  harus jadi yg terbaik!”

Kadang,  aku sendiri sempat merasa tak mampu meraih semua standar-standar tinggi yang Bapak miliki (terlalu tinggi dibandingkan dengan pengetahuanku yang tak seberapa ini).

Namun,  jujur,  justru hal itulah yang jadi membuatku lebih semangat dan berupaya lebih lagi untuk bisa meraih apa yang aku inginkan, “jadi yang terbaik dari yang baik”.

Walau selalu jatuh-bangun dalam IPK,  tapi aku tau semangat itu tidak boleh pudar.  Semua akan terbayar pada waktunya.. 😂

Terimakasih Sir,  yang kadangkala juga sering kupanggil “Ayah” atau “Dad”, karna senang rasanya bisa memiliki Ayah yang hebat sepertimu di kampus.

Ada banyak hal yang harus lebih lagi kucontoh darimu, rendah hati; ikhlas memberi;  tak pernah pamrih;  jarang marah (tapi sekalinya marah..  Seremmmm 😈 hehheheeh); dan suka menolong orang lain adalah keharusan yang harus disimpan baik-baik dalam hati.

Aku jadi teringat waktu dimana engkau marah saat aku tak mengerjakan tugasku dengan baik (waktu di sem I, 2014), yaa tugas itu adalah menulis di “Blog/Wordpress” ini.

So.. Yaaaa inilah persembahanku, hasil ajarmu pada anak didikmu ini, tugas itu kini jadi hobi. Dan lihatlah Sir, sampai detik ini akupun masih menulis!

Dan di penghujung surat ini,  aku ucapkan terima kasih banyak untuk semua yang pernah Sir bagikan dalam ilmu dan kasih.

Semoga kelak aku bisa jadi satu yang sepertimu,  mengajar dan memotivasi sesamaku.

Mahasiswamu,

EVT

U.S. Embassy Jakarta and Consulate Surabaya Student Internship Opportunities 2017: My opinion

Tepat di hari ini lembaga Atamerica yang bertempat di Pacific Place, Jakarta mengadakan seminar yang berisi anak-anak muda yang membahas tentang “Gimana sih caranya supaya bisa magang di US Embassy, Jakarta?”

Nah, lewat pertanyaan ini HR Kedutaan Besar Amerika, Brendan Molloy beserta teman-teman staf-nya menjelaskan dengan jelas dan detail. Jadi kalau kalian tertarik untuk tau lebih jelas dan dalam, mereka menyediakan video yang direcord langsung dari atamerica, nah video itu bisa kalian cek langsung di official account mereka di www.atamerica.com

Jadi di tulisan saya kali ini, saya gak akan cerita panjang lebar gimana saya waktu ngikutin seminar itu tapi saya langsung aja pada poinnya. Jadi ada 2 poin yang akan aku ceritakan di tulisan kali ini:

  1. How to apply US Embassy Students’ Internship
  2. My Impression with Foreigners’ mindset

  1. How to apply US Embassy Students’ Internship

Ada beberapa persyaratan umum yang harus kamu perhatikan jika kamu tertarik untuk magang di dubes US, they are:

a. Fresh Graduate from Indonesian Universities (either in Government or Private University)

b. For Undergraduate, Postgraduate, and Doctor

c. Min GPA 2.75

d. Work Experience

e. Health Insurance

f. Social Networking

g. Fluency in English

h. TOEFL score ( From the original and recognized institution)

i. No salary

Nah dari beberapa requirements itu emang kelihatannya sedikit-banyak emang sulit sih, tapi menurut  aku itu worth it banget deh. Soalnya akan banyak pengalaman yang bisa kamu dapat dari program magang tersebut. Apa aja? Yuk kita lihat..

a. Working Experience (includes in relationship, having friends foreigners)

b. Sosial Networking kamu akan semakin luas (kamu akan punya banyak teman yang bekerja di US Embassy lewat kegiatan magang ini)

c. Certificate

d. US Social Behavior, US people mindset and team-working, culture, etc.

e. Many activities and events

f. Learning a lot from the principles and deans

g. Be approved kalo kamu nanti mau lamar kerja di perusahaan asing  dengan tunjukkin sertifikat magang kamu dari US Embassy.

Nah gimana? Banyak keuntungannya kan buat kamu pribadi? 🙂

Jadi kamu layak buat coba kok..


2. My Impression with Foreigners’ mindset

Satu hal yang paling saya suka dari Foreigners’ (in terms of kalau kita ingin kerja di bawah pimpinan mereka atau bekerja dalam team) itu adalah:

MEREKA ORANG YANG SANGAT ON TIME, TEGAS, KERAS, BERINTEGRITAS dan DISIPLIN.

Jadi kalau menurut pandangan saya, sangat bagus buat kamu yang juga punya sifat-sifat seperti yang aku jelaskan diatas. Aku sendiri ngerasa cocok dengan sistem pemikiran mereka. JELAS. Dan, cocok juga buat kamu yang ingin mengubah sifar ke-Indonesian-mu menjadi sifat yang lebih baik. Kenapa nggak kalo bisa berubah ke arah yang lebih baik? Ia nggak?

To be Honest, saya kurang suka dengan gaya Indonesia. -Maaf kata- suka telat jadi hal yang lumrah bukan? Lalu alasan “macet” juga udah gak asing lagi di telinga kita, Ia kan? Sedangkan, orang asing itu paling tidak bisa menerima terlalu banyak “excuses” , karna buat mereka terlalu banyak excuses itu artinya kamu bukan orang yang benar-benar qualified. Really, I’m talking to you. They told to me today like that.. (Jan,24,2017)

Jadi hal ini bener-bener bagus banget buat kamu yang punya pemikiran luas dan pengen out of the box and out from your comfort zone. Coba deh..


At last but not least, Aku dan kamu sama-sama berjuang di era MEA ini. Kita belajar terus.. terus.. gak boleh bosan. Karena penulis yakin, kamu yang sedang baca ini juga ingin bisa “Go International” one day. It’s our wish and hope, isn’t it?

As The Human Resource Of US Embassy told to me today, ” Keep study hard.. study hard.. study hard.. you can take your own out which the best fit in you later and Good luck!” ❤

Tuesday/ Jan, 24th, 2017

With love and blessed

Author,

Evelin Tampubolon

Ibu tangguh

Jadi Ibu yang tangguh itu gak gampang.

Banyak hal yang harus dikorbankan. Waktu, tenaga, emosi, dan banyak hal yang tak bisa digambarkan lewat kata-kata.

Apalagi menjadi single mama, saya gak tau deh seperti apa gak enaknya berada di posisi mama.

Iya, mama saya.  Ibu yang tangguh, super hebat, super mama, capek pagi-siang-sore-malam, kepala jadi kaki-kaki jadi kepala supaya bisa nafkahin kami ber-4.                     Beliau jadi single mama selama at least 6 tahunan. Ngurus ini-itu sendiri, anak yang harus di take care of ada 4 orang. Belum lagi kalau bahas masalah finansial, aduh.. gak kehitung deh berapa banyak yang harus dikeluarkan buat biayain kami, istilahnya tuh kalo tangan jadi kaki jadi deh, banting tulang sana-sini, yang penting anaknya bisa sekolah.

————————————————————————-

Medan, 2010

“Ma, ini raport ku,” kata saya

“Kok nilainya pas-pas an gini, ada merahnya pulak. Gimana sih plin.. ?” jawab mama saya

“Yah, bisanya juga cuma segitu. mau diapain?” kata saya

*hening*

“Mama udah capek-capek sekolahin, kerja mu sekolah aja juga masak gak bisa bagus nilaimu hah? Mending gausah sekolah lah.. Ini duit cari kerja aja biar menghasilkan sana..”

“Dengar ya plin, kita bukan orang kaya ya plin, bukan berasal dari keluarga yang berada, gak punya apa-apa. Jadi, kalau kamu mau sukses, usaha sendiri pake tangan sama kakimu itu. Kamu itu disekolahin supaya pintar dan bisa jadi “orang”. Kamu lihat kan hidup ini keras? Kamu sekolah aja mama udah syukur. Kamu disekolahin supaya bisa berubah hidup, supaya punya kehidupan yang lebih baik nanti, supaya gak susah hidupmu kayak mama lagi. Kalau kamu sendiri aja gak peduli sama dirimu, peduli gak peduli sama sekolahmu, mau jadi apa?!.”

“Jadi kalo nilaimu masih kayak gini, mending kamu gausah sekolah ya.” kata Mama.

{*cry slow down }


 

Cerita diatas memang unforgetable dan masih sangat saya simpan rapi dalam memori saya, walau memang belum bisa ngasih apa-apa ke mama (karena masih studi S1), tapi tetep aja pengen banget yah buat Beliau bangga, seengaknya bangga punya anak yang bisa diandalkan. (Semoga cepet lulus dan dapet kerja, Amin).

Hari ini tepat di 22 Desember 2016,  entah untuk yang keberapa kalinya, saya selalu menitikkan air mata. Mengingat semua perjuangannya, semangatnya yang gak pernah padam buat semangatin anak-anaknya, terutama saya kalo saya pasti punya masa depan dan selalu gak boleh nyerah sama keadaan.

Saya selalu suka deh ngomong gini ke diri saya, “Lo liat itu orang-orang sukses, pejabat-pejabat, Lo bisa jadi mereka asal lo mau terus belajar dan pake otak, kaki, sama tangan lo buat jadi kayak gitu!”

(Ngeri juga ya saya setelah dipikir-pikir, nyeremin kata-katanya. But, you know? It’s the fucking fact man. Karena kalo lo mau jadi “orang” yah lo harus usaha men.. orang dalam denotasi positif ya guys.)


 

Balik lagi ke mama saya nih,

Kadang ya, setiap saya ngeliat wajahnya yang udah mulai muncul keriput, saya suka nangis diem-diem gitu.. Cuma pengen nanya aja sih..

“Tuhan, sempet gak ya saya bahagiain Ibu saya ini?”

Siapa coba yang gak nangis waktu ngomong gitu? Saya? Gausah ditanya-lah, pasti nangis.


Finally

Ma, I just wanna say this,

Bahkan seluruh kekayaan di dunia ini dan segalanya tidak akan mampu membayar semua yang udah Mama kasih buat saya.

Selamat hari Ibu, ma..

*Speechless

 

Jakarta,  10.53 P.M.