img-20150818-wa000

Surat kepada Mr. Seven

Hai Sir..

Senang sekali rasanya bisa membuat surat pertama untuk Sir..

Pertama-tama,  izinkan saya untuk berterima kasih atas semua yang sudah Sir ajarkan pada saya sejak tahun 2014 hingga sekarang (lebay ya hehehe..)

Jika flashback pada tahun-tahun pertama saya kuliah,  saya senang bisa mendapat banyak pelajaran dari Sir. Bukan tentang sulitnya mata kuliah,  tapi lebih kepada semangat yang selalu Sir tularkan kepada kami, mahasiswamu.

Selalu terselip motivasi,  semangat, totalitas, ide-ide kreatif yang selalu Sir bagikan saat mengajari kami (hal yang kami tidak selalu bisa dapatkan dari dosen lain). Walau memang hal itu tak berlangsung lama sejak Sir harus memulai kehidupan baru (Percayalah kita sangat merindukan kata kata penyemangat “mario teguh”di semester I itu..  #salamsuper 😅).

Tapi semangat dan selalu ingin jadi yang terbaik tak pernah lupa Sir tawarkan bagi kami,  karna Sir selalu tidak suka jika kami menjadi ” yang biasa-biasa saja”.

Tak lupa pula dengan kalimat yang  Sir pernah ucapkan kala kita semua mengobrol di lobby Universitas siang itu,  “Jangan jadi katak dalam tempurung.  Ada banyak peluang di luar sana, cari banyak kontes-kontes kejuaraan,  ikuti,  harus jadi yg terbaik!”

Kadang,  aku sendiri sempat merasa tak mampu meraih semua standar-standar tinggi yang Bapak miliki (terlalu tinggi dibandingkan dengan pengetahuanku yang tak seberapa ini).

Namun,  jujur,  justru hal itulah yang jadi membuatku lebih semangat dan berupaya lebih lagi untuk bisa meraih apa yang aku inginkan, “jadi yang terbaik dari yang baik”.

Walau selalu jatuh-bangun dalam IPK,  tapi aku tau semangat itu tidak boleh pudar.  Semua akan terbayar pada waktunya.. 😂

Terimakasih Sir,  yang kadangkala juga sering kupanggil “Ayah” atau “Dad”, karna senang rasanya bisa memiliki Ayah yang hebat sepertimu di kampus.

Ada banyak hal yang harus lebih lagi kucontoh darimu, rendah hati; ikhlas memberi;  tak pernah pamrih;  jarang marah (tapi sekalinya marah..  Seremmmm 😈 hehheheeh); dan suka menolong orang lain adalah keharusan yang harus disimpan baik-baik dalam hati.

Aku jadi teringat waktu dimana engkau marah saat aku tak mengerjakan tugasku dengan baik (waktu di sem I, 2014), yaa tugas itu adalah menulis di “Blog/Wordpress” ini.

So.. Yaaaa inilah persembahanku, hasil ajarmu pada anak didikmu ini, tugas itu kini jadi hobi. Dan lihatlah Sir, sampai detik ini akupun masih menulis!

Dan di penghujung surat ini,  aku ucapkan terima kasih banyak untuk semua yang pernah Sir bagikan dalam ilmu dan kasih.

Semoga kelak aku bisa jadi satu yang sepertimu,  mengajar dan memotivasi sesamaku.

Mahasiswamu,

EVT

U.S. Embassy Jakarta and Consulate Surabaya Student Internship Opportunities 2017: My opinion

Tepat di hari ini lembaga Atamerica yang bertempat di Pacific Place, Jakarta mengadakan seminar yang berisi anak-anak muda yang membahas tentang “Gimana sih caranya supaya bisa magang di US Embassy, Jakarta?”

Nah, lewat pertanyaan ini HR Kedutaan Besar Amerika, Brendan Molloy beserta teman-teman staf-nya menjelaskan dengan jelas dan detail. Jadi kalau kalian tertarik untuk tau lebih jelas dan dalam, mereka menyediakan video yang direcord langsung dari atamerica, nah video itu bisa kalian cek langsung di official account mereka di www.atamerica.com

Jadi di tulisan saya kali ini, saya gak akan cerita panjang lebar gimana saya waktu ngikutin seminar itu tapi saya langsung aja pada poinnya. Jadi ada 2 poin yang akan aku ceritakan di tulisan kali ini:

  1. How to apply US Embassy Students’ Internship
  2. My Impression with Foreigners’ mindset

  1. How to apply US Embassy Students’ Internship

Ada beberapa persyaratan umum yang harus kamu perhatikan jika kamu tertarik untuk magang di dubes US, they are:

a. Fresh Graduate from Indonesian Universities (either in Government or Private University)

b. For Undergraduate, Postgraduate, and Doctor

c. Min GPA 2.75

d. Work Experience

e. Health Insurance

f. Social Networking

g. Fluency in English

h. TOEFL score ( From the original and recognized institution)

i. No salary

Nah dari beberapa requirements itu emang kelihatannya sedikit-banyak emang sulit sih, tapi menurut  aku itu worth it banget deh. Soalnya akan banyak pengalaman yang bisa kamu dapat dari program magang tersebut. Apa aja? Yuk kita lihat..

a. Working Experience (includes in relationship, having friends foreigners)

b. Sosial Networking kamu akan semakin luas (kamu akan punya banyak teman yang bekerja di US Embassy lewat kegiatan magang ini)

c. Certificate

d. US Social Behavior, US people mindset and team-working, culture, etc.

e. Many activities and events

f. Learning a lot from the principles and deans

g. Be approved kalo kamu nanti mau lamar kerja di perusahaan asing  dengan tunjukkin sertifikat magang kamu dari US Embassy.

Nah gimana? Banyak keuntungannya kan buat kamu pribadi? 🙂

Jadi kamu layak buat coba kok..


2. My Impression with Foreigners’ mindset

Satu hal yang paling saya suka dari Foreigners’ (in terms of kalau kita ingin kerja di bawah pimpinan mereka atau bekerja dalam team) itu adalah:

MEREKA ORANG YANG SANGAT ON TIME, TEGAS, KERAS, BERINTEGRITAS dan DISIPLIN.

Jadi kalau menurut pandangan saya, sangat bagus buat kamu yang juga punya sifat-sifat seperti yang aku jelaskan diatas. Aku sendiri ngerasa cocok dengan sistem pemikiran mereka. JELAS. Dan, cocok juga buat kamu yang ingin mengubah sifar ke-Indonesian-mu menjadi sifat yang lebih baik. Kenapa nggak kalo bisa berubah ke arah yang lebih baik? Ia nggak?

To be Honest, saya kurang suka dengan gaya Indonesia. -Maaf kata- suka telat jadi hal yang lumrah bukan? Lalu alasan “macet” juga udah gak asing lagi di telinga kita, Ia kan? Sedangkan, orang asing itu paling tidak bisa menerima terlalu banyak “excuses” , karna buat mereka terlalu banyak excuses itu artinya kamu bukan orang yang benar-benar qualified. Really, I’m talking to you. They told to me today like that.. (Jan,24,2017)

Jadi hal ini bener-bener bagus banget buat kamu yang punya pemikiran luas dan pengen out of the box and out from your comfort zone. Coba deh..


At last but not least, Aku dan kamu sama-sama berjuang di era MEA ini. Kita belajar terus.. terus.. gak boleh bosan. Karena penulis yakin, kamu yang sedang baca ini juga ingin bisa “Go International” one day. It’s our wish and hope, isn’t it?

As The Human Resource Of US Embassy told to me today, ” Keep study hard.. study hard.. study hard.. you can take your own out which the best fit in you later and Good luck!” ❤

Tuesday/ Jan, 24th, 2017

With love and blessed

Author,

Evelin Tampubolon

Ibu tangguh

Jadi Ibu yang tangguh itu gak gampang.

Banyak hal yang harus dikorbankan. Waktu, tenaga, emosi, dan banyak hal yang tak bisa digambarkan lewat kata-kata.

Apalagi menjadi single mama, saya gak tau deh seperti apa gak enaknya berada di posisi mama.

Iya, mama saya.  Ibu yang tangguh, super hebat, super mama, capek pagi-siang-sore-malam, kepala jadi kaki-kaki jadi kepala supaya bisa nafkahin kami ber-4.                     Beliau jadi single mama selama at least 6 tahunan. Ngurus ini-itu sendiri, anak yang harus di take care of ada 4 orang. Belum lagi kalau bahas masalah finansial, aduh.. gak kehitung deh berapa banyak yang harus dikeluarkan buat biayain kami, istilahnya tuh kalo tangan jadi kaki jadi deh, banting tulang sana-sini, yang penting anaknya bisa sekolah.

————————————————————————-

Medan, 2010

“Ma, ini raport ku,” kata saya

“Kok nilainya pas-pas an gini, ada merahnya pulak. Gimana sih plin.. ?” jawab mama saya

“Yah, bisanya juga cuma segitu. mau diapain?” kata saya

*hening*

“Mama udah capek-capek sekolahin, kerja mu sekolah aja juga masak gak bisa bagus nilaimu hah? Mending gausah sekolah lah.. Ini duit cari kerja aja biar menghasilkan sana..”

“Dengar ya plin, kita bukan orang kaya ya plin, bukan berasal dari keluarga yang berada, gak punya apa-apa. Jadi, kalau kamu mau sukses, usaha sendiri pake tangan sama kakimu itu. Kamu itu disekolahin supaya pintar dan bisa jadi “orang”. Kamu lihat kan hidup ini keras? Kamu sekolah aja mama udah syukur. Kamu disekolahin supaya bisa berubah hidup, supaya punya kehidupan yang lebih baik nanti, supaya gak susah hidupmu kayak mama lagi. Kalau kamu sendiri aja gak peduli sama dirimu, peduli gak peduli sama sekolahmu, mau jadi apa?!.”

“Jadi kalo nilaimu masih kayak gini, mending kamu gausah sekolah ya.” kata Mama.

{*cry slow down }


 

Cerita diatas memang unforgetable dan masih sangat saya simpan rapi dalam memori saya, walau memang belum bisa ngasih apa-apa ke mama (karena masih studi S1), tapi tetep aja pengen banget yah buat Beliau bangga, seengaknya bangga punya anak yang bisa diandalkan. (Semoga cepet lulus dan dapet kerja, Amin).

Hari ini tepat di 22 Desember 2016,  entah untuk yang keberapa kalinya, saya selalu menitikkan air mata. Mengingat semua perjuangannya, semangatnya yang gak pernah padam buat semangatin anak-anaknya, terutama saya kalo saya pasti punya masa depan dan selalu gak boleh nyerah sama keadaan.

Saya selalu suka deh ngomong gini ke diri saya, “Lo liat itu orang-orang sukses, pejabat-pejabat, Lo bisa jadi mereka asal lo mau terus belajar dan pake otak, kaki, sama tangan lo buat jadi kayak gitu!”

(Ngeri juga ya saya setelah dipikir-pikir, nyeremin kata-katanya. But, you know? It’s the fucking fact man. Karena kalo lo mau jadi “orang” yah lo harus usaha men.. orang dalam denotasi positif ya guys.)


 

Balik lagi ke mama saya nih,

Kadang ya, setiap saya ngeliat wajahnya yang udah mulai muncul keriput, saya suka nangis diem-diem gitu.. Cuma pengen nanya aja sih..

“Tuhan, sempet gak ya saya bahagiain Ibu saya ini?”

Siapa coba yang gak nangis waktu ngomong gitu? Saya? Gausah ditanya-lah, pasti nangis.


Finally

Ma, I just wanna say this,

Bahkan seluruh kekayaan di dunia ini dan segalanya tidak akan mampu membayar semua yang udah Mama kasih buat saya.

Selamat hari Ibu, ma..

*Speechless

 

Jakarta,  10.53 P.M.

Sepenggal surat untuk Pak Ahok di tempat

Selamat tanggal 4 November 2016 Pak,

hari ini kita memulai sesuatu yang baru dari hari yang lainnya.

Jika ditahun depan kita ulang lagi, kenangan dan memori ini bisa jadi penyegar jiwa yang baik.

Di surat ini aku mau menyampaikan tanda kasih dan cinta atas apa yang sudah Bapak lakukan dan perbuat bagi kami -red: semua warga Jakarta- di tahun-tahun terakhir pelayanan Bapak sebagai Gubernur (sebelum melakukan pilkada di tahun 2017).

jiwa yang tegas dan pikiran yang keras membuat kita kadangkala disangka sebagai orang jahat. Tak pelak banyak tuduhan dan sindiran sana-sini menghujani kita..

Tapi tahukah Bapak kalo Bapak adalah seorang pemimpin yang ideal bagi negeri ini?

Semua yang Bapak persembahkan bagi kota kami sangat luar biasa hebat. Banyak anak-anak yang tidak bisa sekolah jadi bisa sekolah melalui adanya program sekolah gratis yang baik bagi yang membutuhkan.

Banyak ibu-ibu yang bahagia saat Bapak berikan bantuan sembako dan biaya sekolah anak mereka, dan SEMUA WARGA JAKARTA-NON JAKARTA yang dengan senyum sumringah menyambut  pelayanan busway yang murah, praktis, dan gratis bagi kami dengan “KRITERIA”. 

Terima kasih untuk seluruhnya Pak, 

Banyak yang Bapak dan Pak Jokowi lakukan untuk kami, saat jabatan kalian menjadi pasangan Gubernur kemarin. Kalian membuka mata bahwa ternyata banyak orang-orang diluar sana yang tak setulus kalian, yang bahkan tak pernah peduli dengan kami, masyarakat kecil, ini. 

Kini ketika hujan datang di tahun 2016, Jakarta tak gampang tergenang air hujan lagi. Tak banyak sampah berserakan dijalan kota, Tak banyak pedagang yang mengganggu lalu-lalang kota karena Bapak berikan tempat yang layak untuk berjualan..

Ada banyak tim yang Bapak bentuk, Tim Biru; Kuning; dll.. semuanya berguna untuk menjaga kota Jakarta.

 

Kini biarlah masing-masing saling menyadari, sudah seberapa jauhkan kami melangkah untuk mengucap terima kasih atas apa yang Bapak buat kepada kami.  SEMUA HAL YANG TAK BISA KAMI DAPATKAN DARI PEMERINTAH LAINNYA. 

SIAPKAN DIRI UNTUK MASA JABATAN KE-DUA DI 2017, PAK !

ANAK-ANAK MUDA JAKARTA MENANTI MISI DAN VISI-MU!!

salam fans kabinet Bapak,

KERJA, KERJA, KERJA.

 

Kenapa sih aku harus sekolah?!

“Kenapa sih aku harus sekolah?!” 

“Sekolah cuma buang-buang uang aja! Lagian aku bisa cari duit tanpa harus sekolah, toh buat makan dan jajan-ku aja kan juga udah cukup? Ngapain harus capek-capek pergi setiap hari kesekolah. Toh, Orang-orang yang memimipin negeri ini juga orang2 yang udah kaya dan mampu dari sononya kan? Lah gue? Disekolah juga gaada gunanya selain duduk diam dengerin guru berkalota (bahasa Manado dari bercerita)!!”

“Udahlah mending aku putus sekolah aja. Capek hati dan otak aku kalau hanya kayak begini mulu..” ucapnya sambil menghembus sisa rokok terakhirnya.

 

—Yah itulah sepenggal curahan singkat dari hati seorang anak–

Saya: Miris saya melihat, mendengar, dan merasakannya. Kadangkala mau menangis juga memperhatikan banyak dari anak-anak di Negeri saya sendiri yang belum bisa mendapatkan pendidikan dengan layak, dan itu jumlahnya dalam angka juta jiwa anak-anak putus sekolah dengan banyak faktor internal maupun eksternal didalamnya.

Saya sendiri lahir bukan dari keluarga yang mampu. Sederhana saja. Bisa makan, sekolah, dan bermain menjadi masa kecil yang indah kala itu. Saya dibesarkan dikeluarga yang keras dan disiplin. Ayah saya sendiri bukanlah orang berada di Negeri ini, hanya seorang pencita-cita besar bagi kami, anak-anaknya. Bisa dibilang, Ayah adalah orang yang sangat mati-matian berjuang keras siang-malam hanya untuk membiayai agar kami bisa sekolah sampai setinggi-tingginya. Singkat kata, Beliau mau kami semua sekolah.

Sekolah? Apa hanya sesimpel itu?

TIDAK!

Sejak kecil, saya sudah terbiasa dengan tali pinggang/gesper, sapu lidi, dan kayu runcing yang menjadi makanan sehari-hari jika tidak mengerjakan tugas (peer) dan malas belajar. “Prakkk..” bunyi pukulannya tepat di kaki saya. Ya begitulah konsekuensi kalau tidak mau belajar. Dipukul. That’s my bad part. Sekarang saat saya sudah besar dan sedang menyelesaikan studi Sarjana saya, sedih-sedih lucu waktu inget itu. Ah Ayah..

So ya, jadi apasih makna sekolah itu? Apa cuma datang, duduk, diam doang?!

Ga dong yah. Banyak sekali maknanya. Kita sekolah bukan hanya semata-mata buat dapetin nilai, biar ada gelar, biar dibilang orang keren; hebat, biar gak malu-maluin, karena disuruh ortu doang, gaada pilihan lain, dan sejuta alasan lainnya….

Sedari kecil ( golden ages) kita disekolahkan orangtua agar kita mampu melatih dan mempergunakan otak kita. Agar kita mampu bijak, bersilogisme, berpikir logis, bernaluri, berakal budi, dll..

So that’s why kita gak bakal gampang dipengaruhi, dibodoh-bodohi oleh orang lain, dijebak, dihasut, dsb. Karena kita sudah mampu berpikir cerdas bahwa “ya atau tidak!” dan saya harus mengatakannya.

Let’s see, zaman penjajahan (Pak SOEKARNO-HATTA) dulu, banyak masyarakat pribumi dilarang sekolah oleh para kaum kolonial (orang Jepang-Belanda-Inggris).

TAU GAK KENAPA? KARENA MEREKA GAK MAU KITA, MASYARAKAT PRIBUMI, JADI PINTAR! KARENA KALO KITA PINTAR DAN BIJAK, KITA AKAN DENGAN GAMPANG TAHU KALO MEREKA ITU MENJAJAH KITA DENGAN SANGAT LICIK, KEJAM, DAN JAHAT!! 

Kalian tau kan apa aja yang udah mereka lakukan terhadap kita selama zaman penjajahan dulu? (kalian akan tahu jika sudah belajar Sejarah dengan baik). Dengan sangat halus dan pintar, mereka garap semua kekayaan bumi kita dengan dalih kerjasama dan sebagainya. Kita yang gak tau apa-apa ini hanya bisa mengganguk “ya.. ya.. ya..”

Ingat juga dengan R. A. KARTINI?

Beliau adalah wanita hebat yang dengan sangat berani mempelajari bahasa asing walaupun saat itu ditentang keras dan dilarang untuk belajar. Karena apa? KARENA JIKA IA BISA MENGUASAI BAHASA ASING, IA AKAN MAMPU MENGERTI CARA MENGHENTIKAN PENJAJAHAN DI NEGARA-NYA!! IA AKAN MAMPU MEMIMPIN SEMUA WANITA UNTUK MENYERANG KOLONIAL PENJAJAH! DAN KITA ( PARA KOLONIAL) AKAN KALAH DAN TAK MENDAPAT APA-APA!

Bukan maksud saya untuk menjelek-jelekkan bangsa asing. Namun inilah kenyataan-nya, saya adalah representatif R. A. KARTINI di era-millenial sekarang.. Saya tidak mau bodoh, apalagi sampai harus dijajah lagi oleh orang asing. Saya pintar, hebat, dan berintelektual tinggi. Bangsa asing yang disebut “Bule” oleh kami, bukanlah apa-apa atau siapa-siapa. Justru, kamilah bangsa Indonesia yang harus kalian takuti! Kami pintar dan hebat sekarang!! Lihat kekayaan Alam kami yang tiada tara dan duanya. Jelas, kami tak bisa dibodohi lagi, bahkan secuil pun tidak (jika kami, anak-anak bangsa, mau terus belajar dan berusaha).

See?

“Jadi kamu masih mau bilang “SEKOLAH” itu gak penting, nak?

Percayalah, hanya dengan belajar-lah kau mampu mengguncang dunia ini!

Dengan pemikiran kritismu tak ada yang mampu membodohi dan menipu-mu lagi dengan dalih atas apapun. Kau akan mampu berpikir dengan sangat tinggi dan ideal, nak.

Ketahuilah anak-anakku, hanya dengan sekolahlah kau mampu menjadi bagian penting di dunia ini. MAKA ANGKATLAH KAKIMU DAN PERGILAH SEKOLAH, SEKARANG!!” Bung Karno-1945.

 


~ I wrote this to dedicated myself to our great predecessor for their contribution in our acquisition of  independence in the days of the past. 

Love to the sky,

Author