Surat untuk Bapak: Rini

Jakarta, July 2017

 

Dear Bapak,

I was feeling really bad when I left you, mom, and my siblings. I still remembered the last time we met. Not much that you said, I just remembered your face when the last time you led me go to the airport. Neither hug nor cry, just silent between us. Honestly, now I felt regret, why I didn’t  have a brave to hug my father?? For the last time? Oh really I don’t know why?? Maybe because I didn’t really close to him. In my mind, I am just thinking why dad didnt feel sad leaving him. Maybe actually, he was sad but cant show it because he is not a romantic person. And I think he wanna teach me how to be a strong, a independent woman before he will go forever.

Three years after that, I had a call told me that you are gone forever. My heart was broken immediately after I heard that. You are gone without permission, without saw me for the last time and without saying good bye to me. I think it’s really really bad dad. I am really disappointed, you were so selfish. You didn’t care and love us. I’m angry but I  cant say that, I felt like I wanna die but I didn’t know how. I wondering why, why, and why to God, but I didn’t find the answer. I felt like the earth stopping rotate. I just feel lonely so deeply and my heart filled with remorse after your leaving. And yes, this feeling doesn’t goes away till now.

I think this feeling can move on day by day, week by week, and year by year. And you know what, I’m totally wrong. I just miss you so badly, dad. I wonder how your looks nowadays if you still alive. Are you watching what I’m doing right now? What I eat? Who’s my friend? How’s my study? I miss you dad, i miss your call, i miss when you get mad on me, miss when you take me to school, miss when you’re joking (Pisang Saleh). Too much of the memories that happen which I can’t described it one by one in this letter. I always remember it dad, the memories that I keep in my heart.

Thank you dad for giving me the childhood like that. Sometimes, when I feel lonely and stress (which I don’t know why it happen), I just wanna cry all day. Yeah, so weak I am. My sister told me maybe I just miss you so my tear fall away. I forget you dad, remembering you make my heartache. I regret everything that I have done to you dad, everything. I just wanna say sorry from the deep of my heart. I just realize that I love you as much as my heart does. You are my father, the one in this earth who cares me a lot. But God more loves you, I know that, so He took you away from us. I hope one day I can understand why, so the regret can go away. I know that I have another Father who takes care of me and my family a lot. Thanks God for being my Father, for wipe out my tear, my loneliness, for everything that You have done in my life. I realize that having You as my Father is enough for me. Many thanks for giving me “a dad likes him for he entire of my life and forgive me for my careless to him yesterday (really, I feel bad for this).

“Losing you, dad, is the worst part of my life but I believe that now I have a God, and it means I have everything. I know that. Ones, I can’t wait to see you dad. Don’t forget to joke Pisang Saleh there!”

 

Your little daughter,

Rini

Advertisements

Menjadi dewasa berarti..

Menjadi dewasa berarti..

Sadar bahwa kau tak lagi sepantasnya bersikap dan berpemikiran  seperti anak-anak..

Sadar bahwa hidup memang bukan cerita tentang diri sendiri saja, tapi tentang orang lain juga..

Sadar untuk mulai belajar bagaimana caranya bersikap terhadap diri sendiri dan orang lain,

Sadar untuk tidak hanya mengikuti keinginan dan ego sendiri, tapi belajar mendengarkan hatimu,

Bukan juga bercerita tentang bagaimana kamu harus menyenangkan hati semua orang, tapi belajar menerima pendapat mereka dan tau mengambil keputusan mana yang terbaik walaupun konsekuensinya tak disukai. Tidak apa-apa kok.

Karena kau tidak harus menjadi orang lain untuk disukai, tidak harus mengubah jati dirimu agar orang lain tertarik. TIDAK HARUS.

Karena tidak perlu berusaha mencintai semua orang, kau hanya perlu belajar mencintai dirimu sendiri terlebih dahulu..

Kau belajar menemukan cita-cita, passion dan menggapai semua anganmu di masa mudamu yang cuma sekali ini.

Kau juga belajar memilih dan menentukan pilihan dari sekian banyak tawaran masa muda,

Kau belajar menghabiskan masa muda dengan hal-hal yang berguna dan berpengaruh bagi banyak orang lewat kebaikan dan cintamu,

Tau mana yang harus kamu pilih dan tidak.

Tau apa yang terbaik bagi jiwa dan perasaanmu.

Tau siapa orang yang tepat untuk menjadi kekasih hatimu,

Karena bukan tentang dia yang sempurna, tapi tentang dia yang mau belajar dan menghabiskan waktu bersama-sama berdua..

Dan hal ini memang membutuhkan penantian panjang untuk menanti(nya) di waktu Tuhan.

Menjadi dewasa juga berarti..

Kau menemukan dirimu yang sebenarnya. Tidak takut orang lain berucap apa dan kau temukan pasti apa yang membuatmu hidup dan bahagia.

Karena sudah banyak lilin yang kau hembus tahun demi tahun..

Membuatmu menyadari betapa orangtua-mu lah yang selalu menjadi pendorong sejati dibelakangmu,

Mereka yang setia dalam kering dan basah perjalanan hidupmu tanpa sempat berpikir untuk berhenti dan menyerah..

Sudah banyak asam-manis-pahit yang kau cicip selama perjalanan seperempat abad hidupmu..

Yang membuatmu belajar betapa besarnya arti hidup dan kerasnya sebuah perjuangan.

Menghargai tiap keringat dan air mata yang terjatuh untuk sebuah hasil yang kau inginkan..

Dan yang terpenting, semua cerita tersebut akhirnya membuatmu sadar bahwa selama perjalanan hidupmu ini, kau tak pernah berjalan sendiri. Ada Semesta yang selalu berjalan beriringan bersamamu melewati tiap alur dan jeda kehidupan.

Akhir kata,

“Menjadi dewasa berarti menyadari bahwa dari seluruh bagian terpenting kehidupan ini, kau hanya harus menjadi dirimu sendiri.”

Epelin Tampubolon

 

A novel: A Letter to My Daughter (2011)

Dear all readers in the world, I am very glad if you are like to read this my first work. It is not about the result I made, but it talks about the process. Many lacks of my writing, I hope you can understand me more than I do ( he-he 😀 )

So for you all, feel free to read this one (you just click on the file below>) and God bless!
Epelin Tampubolon.NOVEL REVISION FINISHED1

A Synopsis: “A Letter to My Daughter”

Synopsis

A beautiful smart girl, Rini, lived with her 50 years-old hardworking father, Ben, in a small city named Medan. Her mother passed away five years ago while giving birth to her. For 17 years she has never seen her mother’s figure in real. Because of her sadness, she was very eager to become an obstetrician (a doctor to pregnant mothers) in order to help all women giving birth. So, after graduated from senior high school, she was going to prepare medical faculty’s entrance examination in Jakarta. However, her father, Ben, was very angry at her decision and trying to forbid her to go to Jakarta. There is a reason why he forbade her daughter.

Until one day, Ben suddenly fainted at his machine shop and Adit, his co-worker, helped and accompanied him to the hospital. A doctor to him, Nathan, said that Ben had a rare disease named Antiphospholipid syndrome (APS)— An autoimmune disease attacks human body immunity and it should be done by surgery only–. Ben was very sad to hear that and decided not to tell his daughter about his disease.

Besides, Rini received LoA (Letter of Acceptance) from Medical University which told that she was accepted and she had to go to Jakarta to fulfill the university summons. With her bestfriend, Milie, she ventured to go to Jakarta without his father knowing. In there, they met a man named Aldo who brought them to the frenetic life of Jakarta. By him, they got to know a bad lifestyle and being almost caught in a crime of his friends.

Two years later, Nathan forced Ben to do surgery immediately. But Ben refused it and said that he wanted to spend the rest of his life to find out where his daughter is. Day by day, he finally had a signal in where his daughter is through Aunt Ratna. But, the pain was so bad and made him could not survive anymore. Because he felt no longer able to withstand the pain, he strengthened himself to write a letter to her daughter and entrusted it to Nathan. Through that letter, Rini realized what her father’s plan for her.

So, what is the content of that letter? Read the full story in this novelette only .

Application Novel Cover by: Canva

Jakarta Berduka

Jakarta,  20/April/2017

Selamat hari ini Pak Basuki Tjahaja Purnama dan Pak Djarot..

Masih belum bisa meninggalkan sisa cerita semalam.

Saat mendengar dirimu dinyatakan belum terpilih untuk putaran kedua di DKI

Walau mendengar dan membaca berita kabar itu di stasiun televisi tak lantas membuat kami berkecil hati sih, tapi hati memang tak mampu berbohong.

Air mata kami perlahan menetes.

Kami sangat sedih.

Belum sanggup penuh kami menerima hasil surat suara itu.

Harap-harap cemas hasil KPU bisa berkata lain tapi memang kami juga sadar kalau hasilnya *mungkin* tak akan jauh beda. Ya memang.

Beberapa bulan lagi, tepat di bulan Oktober nanti, kami akan segera kehilangan sosokmu.

(apakah waktu bisa diputar balik saja? 😥)

Jika merenunginya lebih dalam,

kau itu adalah seorang..

-Sosok pekerja keras (melihat semua hasil kerjamu membuat kami membuka mata, bahwa dirimu lah berkat adanya semua fasilitas ruang terbuka hingga transportasi bagi anak kampung)

-Sosok yang tegas,  lugas,  jujur dan apa adanya (sampai membuat banyak orang tak suka akan eksistensimu,  -ya-sebut saja mereka para koruptor dan penjahat kerah putih ibukota yang benci dengan transparansi dan kejujuran dirimu.  Maka itulah tak kaget jika banyak pejabat juga tak suka melihatmu, takut-takut jika kau menjabat lagi nanti kebusukan mereka bisa tercium dan terbongkar.)

-Sosok yang suka ceplas-ceplos (sampai kau dikira orang yang suka menjelekkan orang lain padahal tak ada maksud sedikit pun untuk berniat buruk seperti itu terhadap mereka).

-Dan sosok panutan bagi negeri ini *ya negeri ini* (tak ada yang salah dengan mengagumimu sebagai pahlawan kami,  orang yang banyak berkontribusi di belakang layar bagi kesehatan, pendidikan,  dan kesejahteraan kami menjadi hal yang harus digaris-bawahi olehmu.) -penting-

Satu-satunya orang yang berani berkata TIDAK saat keadaan memaksamu untuk berkata IYA. Bukan ingin terlihat *sok jago* di mata kami namun kau hanya ingin meluruskan apa yang memang harus ada dijalannya. Sesimpel itulah sebuah integritas.

Dua jempol.

Sekarang, saat dirimu sebentar lagi hanya akan menjadi kenangan terbaik kami, bolehkah kami banyak-banyak berterimakasih Pak?

Kalau dengan berterimakasih bisa membuatmu bahagia,  maka..

Terimakasih untuk kerja keras Bapak selama ini.

Untuk cinta.

Untuk kasih.

Untuk toleransi.

Untuk welas asih.

Untuk Kalijodo yang indah.

Untuk ruang terbuka bagi anak-anak.

Untuk rumah susun yang indah dan asri.

Untuk kali dan sungai Ciliwung yang jarang meluap lagi.

Untuk jalanan yang jarang tergenang lagi.

Untuk pasukan orange yang selalu bersiaga.

Untuk program MRT yang cepat kerjanya.

Untuk KJP, KJS,  BPJS,  dan kartu lainnya yang sudah kami rasakan.

Untuk seluruh subsidi yang bisa kami dapatkan dengan mudah.

Untuk pengurusan e-KTP yang cepat dan tak perlu bayar lagi.

Dan untuk semua yang t’lah Bapak persembahkan bagi Jakarta.

Akankah semuanya tinggal kenangan?

Hari ini kami,  warga Jakarta, mengenakan paduan serba hitam.

Entah itu hanya gelang yang berwarna hitam.

Apakah ini cukup untuk menandakan jika kami sedang berduka?

Hanya waktu,  Tuhan dan hasil yang dapat berbicara.

Dan dua frasa yang bisa menggambarkan perasaan kami saat ini:

“Kembalilah segera Pak Ahok-Djarot.. Indonesia membutuhkanmu!”

Selalu bangga padamu,

Warga DKI

Surat untuk Putriku tercinta, Rini

Apa kabar putriku?

Sudah lama ya sejak kemarin Bapak hantarkan kau ke bandara..

Koper mu sih tidak berat Bapak angkat. Yang berat itu melepaskanmu pergi untuk beberapa lama ke kota seberang.

Melihatmu pergi sebenarnya Bapak ingin menangis tapi tak mungkin aku menangis didepan putriku sendiri..

Aku harus terlihat kuat.

Rindu sekali rasanya sudah 3 tahun lamanya tak melihat putriku yang paling besar..

Apa kabarnya ya, dia?

Dia sudah makan belum ya?

Pulsa handphone-nya sudah dibeli belum ya?

Ah… Apa aku kirim saja agar kami bisa berteleponan malam minggu ini.

Hmhmhm..  Tapi aku takut dia terganggu. Apa mungkin sekarang dia sedang belajar mempersiapkan diri mengikuti ujian PTN?

Mungkin saja.

Apa dia sudah punya teman lelaki?

Apa lelaki itu baik padanya?

Cemas sekali rasanya. Khawatir.

Tak terasa ya Anakku begitu cepat dewasa. Aku masih tidak menyangka saja.

Padahal baru kemarin aku mendaftarkannya sekolah di taman kanak-kanak..

Baru kemarin dia rewel minta dibelikan mainan masak-masakan..

Minta rambutnya ditata disalon agar terlihat bagus.. (padahal Bapak yakin kau hanya ingin mengikuti zaman ya kan Nak? 😏)

Ya begitulah putriku…

Waktu pun berlalu…

Tau-taunya sekarang anakku sudah menamatkan studi S-1-nya, sebentar lagi akan selesai co-ass dan menyandang gelar dokter.

Bangga sekali hati Bapak. Walau Bapak hanya lulusan SMA, tapi bangga bukan main akhirnya putriku bisa Sarjana juga. Terimakasih untuk kerja kerasmu ya boru.

Kau rindu ya padaku,  Nak?

Kemarin kata malaikat, putriku diam-diam menangis dikamarnya. Katanya dia sangat rindu sekali padaku. Dia bilang sedih & ingin bertemu untuk melepas rindunya pada Bapaknya.

Aku pun juga menangis mendengarnya.  Tapi aku malu dilihat malaikat,  jadi aku menangis saja didekat pohon Apel Firdaus.

Aku ingin sekali memeluk putriku,  aku ingin memberi rasa aman seperti yang seorang “Ayah” selalu berikan pada putrinya.

Aku ingin sekali mendengar keluh-kesahnya (“Bagaimana ya hari-harinya disana?  Apakah mereka memperlakukan putriku dengan baik? Atau jangan-jangan tidak….”)

Hening.

‘Nak..

Bapak sudah bahagia disini bersama Tuhan. Tuhan yang selalu kuajarkan kepadamu ketika kecil dulu. Ingat kah?

Tak ada lagi sakit disini.

Jadi jika aku pun bahagia disini,  maka anakku pun harus bahagia ya!

“Kadang kita harus belajar merelakan sesuatu yang sangat kita cintai. Karena mereka bukan milik kita sepenuhnya.  Segala sesuatu yang datangnya dari Tuhan pun harus kembali kepada Tuhan lagi.”

Kuatkan hatimu ya putriku,  sebentar lagi akan tiba waktunya. Air matamu akan di perhitungankan oleh Semesta.

Bapak percaya jika semua yang terjadi adalah atas izin Tuhan. Semua rasa sakit, penderitaan, kesusahan dan kepedihan itu Tuhan izinkan terjadi agar anakku bisa semakin dewasa.

Oh iya,  kemarin saat Malaikat,  Tuhan dan Bapak berbincang di taman dekat sungai Efrata,  katanya putriku akan segera dikirimkan seorang pria yang baik, yang tampan,  lelaki yang bukan hanya akan menjaga putriku saja,  namun juga ibu dan adik-adiknya. Lelaki itu akan datang sebagai diriku. Dia akan segera datang pada waktu-Nya. Tidak terlalu cepat dan tidak akan terlalu lama. Putriku harus segera memantaskan diri ya! 😊

Walaupun saat pernikahan-mu nanti Bapak tak bisa menghantarkan-mu kedepan altar, tapi sebenarnya Bapak pasti hadir bersama Malaikat disana nak.

Bapak akan jadi yang pertama disamping putrinya, di momen hari yang paling bahagia dalam hidup putrinya. Dan hari itu akan segera tiba.

Jadi,  untuk sementara waktu, Bapak titip ibu dan adik-adik ya. Cintailah mereka seperti aku mencintaimu.

Bapak, disini,  sangat benar-benar hebat merindukanmu. Tapi aku tak bisa menangis. Aku ingin putriku belajar menjadi seorang wanita yang kuat, hebat dan tangguh.

Namun jika anakku masih ingin merindu,  menangislah Nak. Agar rasa sesak didada bisa lepas. Tapi ingat setelah itu anakku harus bangkit lagi. Jadi wanita yang setegar karang!

Ada lagi yang ingin kau sampaikan pada Bapak, Nak?

Jika ada,  berdoalah. Hanya dengan doa semua rasa rindu dan sayang bisa tersampaikan dengan baik.

Sampai bertemu di hari dan waktu Tuhan nanti ya putriku.  Saat kita semua bisa dipertemukan kembali dengan tidak ada air mata setelahnya.

 

Peluk hangat untuk boruku, 20160906_180925.jpg

~Bapak

Surat kepada Mr. Seven

Hai Sir..

Senang sekali rasanya bisa membuat surat pertama untuk Sir..

Pertama-tama,  izinkan saya untuk berterima kasih atas semua yang sudah Sir ajarkan pada saya sejak tahun 2014 hingga sekarang (lebay ya hehehe..)

Jika flashback pada tahun-tahun pertama saya kuliah,  saya senang bisa mendapat banyak pelajaran dari Sir. Bukan tentang sulitnya mata kuliah,  tapi lebih kepada semangat yang selalu Sir tularkan kepada kami, mahasiswamu.

Selalu terselip motivasi,  semangat, totalitas, ide-ide kreatif yang selalu Sir bagikan saat mengajari kami (hal yang kami tidak selalu bisa dapatkan dari dosen lain). Walau memang hal itu tak berlangsung lama sejak Sir harus memulai kehidupan baru (Percayalah kita sangat merindukan kata kata penyemangat “mario teguh”di semester I itu..  #salamsuper 😅).

Tapi semangat dan selalu ingin jadi yang terbaik tak pernah lupa Sir tawarkan bagi kami,  karna Sir selalu tidak suka jika kami menjadi ” yang biasa-biasa saja”.

Tak lupa pula dengan kalimat yang  Sir pernah ucapkan kala kita semua mengobrol di lobby Universitas siang itu,  “Jangan jadi katak dalam tempurung.  Ada banyak peluang di luar sana, cari banyak kontes-kontes kejuaraan,  ikuti,  harus jadi yg terbaik!”

Kadang,  aku sendiri sempat merasa tak mampu meraih semua standar-standar tinggi yang Bapak miliki (terlalu tinggi dibandingkan dengan pengetahuanku yang tak seberapa ini).

Namun,  jujur,  justru hal itulah yang jadi membuatku lebih semangat dan berupaya lebih lagi untuk bisa meraih apa yang aku inginkan, “jadi yang terbaik dari yang baik”.

Walau selalu jatuh-bangun dalam IPK,  tapi aku tau semangat itu tidak boleh pudar.  Semua akan terbayar pada waktunya.. 😂

Terimakasih Sir,  yang kadangkala juga sering kupanggil “Ayah” atau “Dad”, karna senang rasanya bisa memiliki Ayah yang hebat sepertimu di kampus.

Ada banyak hal yang harus lebih lagi kucontoh darimu, rendah hati; ikhlas memberi;  tak pernah pamrih;  jarang marah (tapi sekalinya marah..  Seremmmm 😈 hehheheeh); dan suka menolong orang lain adalah keharusan yang harus disimpan baik-baik dalam hati.

Aku jadi teringat waktu dimana engkau marah saat aku tak mengerjakan tugasku dengan baik (waktu di sem I, 2014), yaa tugas itu adalah menulis di “Blog/Wordpress” ini.

So.. Yaaaa inilah persembahanku, hasil ajarmu pada anak didikmu ini, tugas itu kini jadi hobi. Dan lihatlah Sir, sampai detik ini akupun masih menulis!

Dan di penghujung surat ini,  aku ucapkan terima kasih banyak untuk semua yang pernah Sir bagikan dalam ilmu dan kasih.

Semoga kelak aku bisa jadi satu yang sepertimu,  mengajar dan memotivasi sesamaku.

Mahasiswamu,

EVT