Tulisan dari 2019

Hari pertama, bulan pertama, dan tahun pertama di 2019.

Terima kasih untuk Tuhan atas kesempatan hidup di tahun ini. Banyak yang tak mendapatkan kesempatan itu, tapi penulis mendapatkannya dan bisa menulis tulisan pertama di tahun baru ini dan pembaca yang sedang membaca ini sekarang (we are blessed).

Apa yang Tuhan berikan rasanya terlalu berlebihan.

Ada sedih, senang, kecewa, marah, bangga, putus-asa, haru dan perasaan lain yang tak bisa disebutkan satu-persatu menjadi alasan mengapa Tuhan memang benar-benar ajaib.

Dia ciptakan rasa sedih untuk rasa senang,

Dia ciptakan rasa putus-asa untuk rasa bangga,

Dia ciptakan rasa marah untuk rasa sabar,

Dan semua rasa yang pantas untuk dikatakan se-SEMPURNA itu.

Terima kasih banyak pun tak akan pernah bisa pas untuk menunjukkan betapa emosionalnya jiwa akan rasa syukur atas apa yang Tuhan berikan dalam kehidupan.

Lulus kuliah tepat waktu, wisuda dan dianugerahi cumlaude, bekerja dan dipercayakan menjadi seorang guru di sekolah kecil merupakan sederet berkat yang telah Tuhan berikan non-stop dalam kehidupan penulis.

Seharusnya Tuhan berikan berkat itu pada orang lain, tapi dia memilih saya.

Kata apalagi yang cukup untuk menggambarkan betapa bersyukurnya saya atas anugerahNya?

Terlalu banyak berkat yang ada, tak mampu dihitung satu-persatu dan menangis haru adalah pilihan terbaik untuk meresapi dalamnya Kasih Tuhan.

Doa untuk tahun ini tidak akan muluk-muluk (ternyata begini rasanya jadi dewasa ya hehehe)

Doa itu adalah..

Semoga pekerjaan yang sedang ditekuni bisa menjadi persembahan dan pelayanan bagi Tuhan dan sesama. Ada banyak rasa yang harus ditekuni lebih lagi, sabar dan besar hati. Belajar lagi setiap hari, memang banyak kekurangan sana-sini, banyak masukan baik positif maupun negatif, saya percaya semua baik adanya.

Tidak ada rasa benci, tak suka kritik, ataupun dendam. Yang ada hanya rasa mau belajar lagi terus memperbaiki diri lagi dan lagi.

Jika satu hari, Tuhan berikan kesempatan sekolah lagi, ya pasti akan saya ambil. Rindu kuliah dan belajar ilmu lagi, senang rasanya bisa banyak belajar dari mereka orang hebat dan sukses namun tetap rendah hati. Itu poin penting dari pendidikan itu sendiri👍

Lalu,

Memantaskan diri untuk dia yang akan dikirimkan Tuhan tepat pada waktuNya. Rasa rindu ingin bertemu secepatnya dengan ia yang Tuhan kirim nanti memang jadi rasa sabar yang harus dimiliki saat ini.

Menemukan jodoh yang tepat dengan kita adalah pe-er bagi diri sendiri. Kalau mau dia yang baik, maka saya-nya juga harus baik kan? You reflect him and vice versa. Makanya ada yang bilang jodoh itu cerminan diri sendiri. Ya benar.

Sekarang adalah saat untuk menanti-nantikannya sambil terus bekerja, belajar, dan berkarya! Sampai Tuhan bilang ‘iya’ dan ‘amin’.

Doa itu pun demikian untuk Mamak tercinta. Saya tahu Bapak sudah bangga di surga (dulu ia tak pernah bilang jika bangga, tapi tindakannya yang berbicara, ia taruhkan lewat senyum simpulnya dan seloyang “martabak manis-nya”)

Aku sangat merindukan martabak manis kita, among!💙

Jika orang lain berkata dunia kita sudah berbeda memang benar.

Namun,

Cintamu, semangatmu, visi dan misimu itulah yang akan selalu diam di hati dan pikiran saya.

Ibarat sejoli, hati bapak dan anak perempuannya takkan pernah bisa berpisah. Ini bukan terdengar klise, ada darahnya yang mengalir deras pada tiap pembuluh darah anak-anaknya.

Apa yang bapak ajarkan sedari kecil menjadi semangat dan alasan untuk terus mengejar mimpi dan menjadi yang baik dan terbaik.

Terimakasih untuk Mamak dan Bapak yang tidak memilihku menjadi anaknya tapi Tuhan berikan dan aku beruntung.

Jika suatu hari ada kehidupan kedua dan Tuhan berikan pilihan mau lahir dari siapakah anda?

Jawabannya adalah sama.

——————–_-_-_-_——————————-

Tulisan ini sudah terlalu panjang.

Terimakasih sudah mau membaca sebentar.

Selamat datang 2019.

Semoga doa-doa kita bisa tersampaikan dengan baik kepada Tuhan.

Siapapun kamu, dimanapun kamu, apapun agamamu, Tuhan tidak memilih doa. Dia ada untuk kita semua tanpa terkecuali.

Selamat menapaki harapan-harapan baru!

Tuhan memberkati kita❤

-E. Tampubolon

Advertisements

Sebuah Kisah dari VoE (Voice of Educators)

VoE (Voice of Educators) FKIP UKI merupakan media berbagi berita dan  ide dari sivitas akademika FKIP UKI. Sebagai salah satu fakultas di UKI, saat ini FKIP UKI mengelola 8 Program Studi:

(1) Bimbingan & Konseling,

(2) Pendidikan Bahasa Inggris,

(3) Pendidikan Bahasa Mandarin,

(4) Pendidikan Matematika,

(5) Pendidikan Biologi,

(6) Pendidikan Fisika,

(7) Pendidikan Kimia, dan

(8) Pendidikan Agama Kristen.

And here for you to visit free the website of VoE yang dtulis oleh para Pendidik dan Praktisi, hopefully, tulisan ini bisa membantu dan menginspirasi siapapun kalian. Bahwa pendidikan bukan tentang usia, pengalaman, apalagi uang. Pendidikan adalah tentang cinta dan penghargaan pada diri, sesama, dan dunia. Jangan berhenti belajar, karena belajar bukan juga harus di sekolah, tapi mulai dari belajar menghargai dirimu, lingkunganmu, dan sesamamu.

Selamat Membaca 🙂

Bhs. Inggris

  1. 2018 Symposium on the Power of Extensive Reading
  2. Mengapa lebih dari 600 ribu Sarjana menganggur?
  3. Online Learning: Untuk Gagah-Gagahan, atau Karena Kebutuhan?
  4. Teknologi akan Rampas Profesi Guru dan Dosen?
  5. FKIP UKI Kenalkan “Hybrid Learning” di Cianjur
  6. HMPS Pendidikan Bahasa Inggris Jaring Bakat Lewat “Got Talent”
  7. Kiprah Goenoeng Moelia di Bidang Pendidikan dan Oikumene Indonesia
  8. Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Gelar Karyawisata untuk Kembangkan Keterampilan Kolaborasi, Sosial dan Lintas Budaya
  9. Galakkan Debat untuk “Seabrek” Manfaat
  10. Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Tempa Mahasiswa sebagai Produser Ilmu Pengetahuan, bukan Konsumer

Saya Tidak Punya Agama, Kamu?

Tulisan kali ini menarik dan sedikit sensitif. Tentang agama dan segala jenis warna yang ada didalamnya. Dibesarkan dengan penganut agama Kristen dari lahir, maka hingga saat tulisan ini diposting, puji Tuhan saya “Kristiani”.

Jujur, kalau ada yang tanya “kenapa kamu bisa Kristen?” Jawabannya singkat, by blood. Diwariskan. Walaupun di umur sekarang yang sudah dalam tahap dewasa awal (20 an) artinya saya sudah bisa memilih agama apa yang ingin saya anut namun jika disuruh memilih, saya tidak pilih agama manapun. Loh?

Baik, baik, biar saya jelaskan agar Anda tidak salah kaprah.

Dari kecil, Alm. Bapak saya selalu mengenalkan pribadi Yesus yang sangat baik, manis, dan murah hati. Lalu saya jatuh cinta dengan tidak mudah. Mana bisa jatuh cinta dengan cepat, ya kan? Ini kan berbicara hati dan hati tidak bisa dipaksa. Saya melewati masa-masa krisis ke-Tuhan-an dan mulai mempertanyakan eksistensi Tuhan di umur belasan tahun (red: remaja). Saya mulai mau tau dan mempelajari siapa sih sebenarnya “Tuhan” ini? Memangnya ada ya? Bagaimana bisa?

Setelah melewati proses perkenalan selama kurang lebih 3 tahunan (waktu umur 15-18), akhirnya saya benar-benar JATUH CINTA. Saya jatuh hati pada Pribadi luar biasa yang eksis dalam kehidupan saya sampai saat ini, Dia yang memberikan matahari, makanan, sekolah, nafas baru, kekuatan saat Bapak harus meninggalkan kami sekeluarga ke surga, pergumulan saya masuk Uni, dan masih banyak lagi yang saya tidak bisa hitung saking banyaknya.

Sejujurnya, itulah jawaban saya atas pertanyaan “kenapa Anda memilih menjadi Kristiani” adalah: SAYA BUKAN KRISTIANI, SAYA HANYA JATUH CINTA PADA YESUS. Dan bagi saya Kristiani hanyalah simbol semata untuk ajaran yang diajarkanNya.

Pernah satu kali, saya ikut satu komunitas kristen di Uni. Kakak-kakak tutor, Pendeta mengajarkan untuk menyebarkan injil ke seluruh dunia, kalau bisa sampai membawa mereka menjadi pengikut Kristus. Well, saya tidak tertarik sekali pada ajakan ini. Sama sekali tidak. Karna saya berpikir untuk apa? Memangnya Anda-anda sekalian sudah benar sampai mau membawa orang lain ikut kepada Anda? Well, that’s my thought.

Sahabat baik saya berasal dari keluarga Muslim yang taat dan baik. Saya dan dia sudah lama bersahabat sejak SD-sekarang namun kami LDR karena saya harus melanjutkan studi dibeda kota. Kami saling menghargai satu sama lain.

Tidak pernah satu kali pun kami memperdebatkan masalah agama. Paling-paling yang kami perdebatkan masalah pria (halah lol :D) Toh, buat saya agama dia mengajarkan hal yang baik sama seperti ajaran agama saya. Dia tidak pernah memperlakukan saya dengan buruk, apalagi sampai mau mencelakai saya. Oh yes, BIG NO AND NEVER UNTO US. Lalu mengapa saya harus mengajak dia menjadi pengikut Kristus?Apa alasan saya?Kalau Allah yang kami sembah adalah sama tapi hanya dengan cara yang berbeda? APAKAH KALIAN BISA MENJAWAB INI? Silahkan beropini.

Tekait dengan kejadian yang baru-baru saja terjadi di MAKO BRIMOB, Surabaya, Sidoarjo, dan segala kemelutnya, saya yakin dan percaya bahwa peristiwa ini tidak ada sangkut pautnya dengan AGAMA. Semua Agama (jika kamu mempelajarinya dengan baik dan benar) adalah selalu mengajarkan yang baik dan benar. Saya tidak berani bilang Kristen paling benar, paling baik, padahal kenyataannya adalah justru dan bahkan ATHEIS lebih baik daripada saya. They do better than mine. Lalu apa bisa saya bilang saya paling benar? What heaven of me?

Saya bersahabat, memiliki keluarga, diajarkan guru-dosen, memiliki lingkungan, tetangga, semua berasal dari berbagai macam agama dan kami saling mencintai satu sama lain. Mereka tidak pernah memojokkan saya, karena kami sama-sama tahu bagaimana caranya membawa diri. Kami tidak pernah merasa jadi manusia yang paling benar. Kami sadar bahwa berbeda bukan berarti tidak satu.

Mereka-mereka yang berusaha memecah belah negara dan mengatasnamakan agama adalah orang-orang PENGECUT! Mereka tidak punya pendirian sama sekali, beraninya membawa nama komunitas-ajaran tertentu dan membungkusnya dengan ajaran sesatnya, lalu menutupinya dengan sedemikian rupa dan menjualnya atas nama kebaikan. What the ****?

NO WAY FOR THEM!!

Cara satu-satunya untuk terbebas dari belenggu setan ini adalah dengan mengoreksi diri kita masing-masing. Di dunia ini ada banyak paham dan ajaran yang berkembang, kamu pilih, pelajari dan saring, jangan langsung percaya. Saya tidak bilang harus jadi Kristen untuk jadi pribadi yang baik. Saya juga tidak bilang bahwa Atheis saja, atau ini atau itu. Instead, mending “SAYA TIDAK PUNYA AGAMA SEKALIAN DARIPADA SAYA HARUS MENHANCURKAN HIDUP ORANG LAIN.”

Pergunakan otak, nurani dan pikiranmu untuk menjadikan dunia lebih baik. Memangnya apasih parameter/ukuran seseorang dikatakan baik? Bagi saya simpel saja. Dengan tidak menyakiti orang lain, tidak merusak kehidupan orang lain, tidak mengganggu kehidupan orang lain, tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain dan tidak membunuh kehidupan orang lain, artinya saya sudah baik bermoral. Artinya saya manusia yang benar-benar ber-Tuhan melalui sikap dan perilaku saya.

Lalu pertanyaannya, apakah mem-bom itu sendiri adalah prilaku negatif?

Yes, how hell of them, ini jelas banget bertentangan. Itu adalah perbuatan yang sangat- sangat buruk dan tercela. Apakah dengan menghilangkan nyawa orang lain, kita sudah berbuat baik? Ajaran apa itu? Jika memang ada, tolong jelaskan kepada saya, kami, dan seluruh umat yang ada di dunia ini yang juga berpandangan sama dengan saya. Agar kami tahu bagaimana caranya bersikap.

Dibawah ini saya kasih link video yang ada di Youtube, dari seorang youtuber favorit saya, Gita Savitri Devi, yang sangat luar biasa dengan pemikiran-pemikirannya. They both are very open minded persons. Go check them.

#PrayForUs | Beropini eps. 25

 

Sekian dulu, sudah turun sekian banyak air mata saya melihat betapa hancur, kecewa, kesal, dan sedihnya hati para keluarga korban yang ditinggalkan. Anak-anak yang polos dan tidak  tahu apa-apa, yang tadinya hanya punya tujuan ingin bertemu teman, bermain, tertawa bersama teman-temannya dirumah ibadah tapi mereka harus menjadi korban dari perbuatan biadab ini.

Saya, lewat tulisan ini, ingin menyampaikan betapa dalamnya belasungkawa saya kepada bapak/ibu korban bom di beberapa daerah di Indonesia. Tak lupa untuk para Ksatria Negara kami, bapak Polisi, bapak TNI, bapak/ibu Pemerintah yang sudah mau membantu dalam hal perhatian, doa, dan dukungan baik materiil maupun non-materiil. Hormat saya bagi bapak/ibu.

Di akhir tulisan ini saya hanya ingin bilang, “jika dengan berdoa semua rasa sakit bisa tersampaikan dengan baik, maka berdoalah lalu menangislah, manatahu Tuhan tersentuh lalu menjawabnya.”

 

EVT

Mazmur 23 (versi mahasiswa yang menulis skripsi)

Tuhan adalah gembalaku, skripsiku akan selesai tepat waktu;

Dia mencegahku terbaring ketika harus menulis hingga larut malam;

Dia membimbingku untuk mendapat air sejuk sewaktu istirahat menulis;

Dia menyegarkan memoriku tentang konsep-konsep penting.

Dia menuntunku menulis secara logis,

Demi mendapat nilai “A”.

Sekalipun aku harus berjalan di lembah Cikarang untuk penelitian,

Aku tidak takut kelelahan;

Karena Engkau besertaku;

Dosen pembimbing dan teman-teman, merekalah yang menghiburku;

Engkau memberi jawaban dikala aku “ngeblank”;

Engkau mengurapi kepalaku dengan ide-ide cemerlang;

Draft skripsiku penuh melimpah dengan data-data relevan;

Jawaban brilian dan nilai yang cemerlang akan meliputi aku,

Pada saat ujian sidang;

Dan aku takkan diam jadi mahasiswa di Kampus  Cawang

Sepanjang masa!


 

Note:

Terima kasih banyak untuk seorang dosen tegas, hebat dan luar biasa yang sudah kuanggap sebagai Ayahku sendiri di Kampus. Semua yang baik telah Beliau ajarkan padaku. Melewati masa-masa proposal, penelitian hingga sidang, aku berdoa agar kopinya tak dingin ketika aku presentasi didepan!  Ingin berterima kasih, terima kasih lagi dan lagi atas semua yang sudah Anda ajarkan dalam ilmu dan kasih Sir!              Kelak semoga aku bisa jadi sepertimu juga! 😉

Credit to:

My beloved lecturer, Sir Parlin Pardede.